BERCERMIN PADA PENDIDIKAN PESANTREN

akhir-akhir ini negara Jndonesia tambah heboh dengan lahirnya sebuah perseteruan antara KPK dan Polri yang lebih dikenal dengan nama cicak dan buaya.

Kalau kita amati secara teliti, antara KPK dan Polri sama-sama penegak hukum, penegak hukum yang menjadi simbol atau lambang yang hendaknya selalu menampakkan wibawanya di mata masyarakat.

Selayaknya KPK dan Kapolri berembuk secara dewasa dalam menangani kasus-kasus yang terjadi di negri ini.

Kalauperseteruan cicak dan buaya ini semakin berlarut-larut tanpa adanya solusi maka bisa dipastikan rakyat yang akan menderita kerugian. sementara para koruptor semakin menari riang seraya menyaksikan perang yang semakin sengit.

Untuk mengatasi semua problem ini, harus ada di negri ini seorang publik figur yang secara objektif bisa melerai, bisa menanamkan keyakinan dalam taman hati Polri dan KPK tentang indah kebersamaan dan tentang betapa pentingnya bekerjasama untuk saling memikirkan cara memberantas koruptor-koruptor.

Demi terciptanya indonesia yang sejahtera, sudah saatnya negara Indonesia bercermin pada pendidikan pesantren di mana Bapak Kiai (Pemimpin/Pengasuh) menjadi publik figur yang kata dan perbuatannya selalu diikuti oleh para santri binaannya.

O8 November 2009

 

2 Komentar

  1. Ratna Munawarah said,

    November 9, 2009 pada 11:04 pm

    para wayang yang berseteru sekarang ini seperti layaknya digerakan oleh dalang suatu keadaan yang diciptakan dan mungkin susah bila ditunjuk tangan siapa atau siapa yang menjadi dalang. Dengan kata lain tidaklah indah saling menyalahkan. Tapi apa ini bukan suatu rancang bangun yang sudah di maui oleh Allah ? kalau rumah kita yang indah ini di hiasi oleh bunga pertikaian. Maka marilah kita bebenah rumah kita mulai dari diri pribadi sebagai strategi pribadi untuk meningkahi hidup.

  2. November 9, 2009 pada 11:21 pm

    siapa pun pemain wayangnya ku mau semua membuka mata
    indonesia bunda kita
    tak bisakah berbagi senyum ceria
    setelah sekian lama mutiara-mutiara dari langit matanya
    menjelma tinta
    lantas mengabadikan luka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: